A. Latar Belakang Pacu Jawi
Pacu jawi diadakan di kabupaten tanah datar Indonesia.Menurut adat, salah satu syarat daerah penyelenggara pacu jawi adalah gunung marapi harus terlihat jelas.Gunung setinggi 2.891 meter ini konon adalah asal orang minangkabau yang kini mendiami Sumatra Barat. Warga setempat yang kebanyakan berlatar belakang petani, menyelenggarakan acara ini saat sawah sudah kosong setelah dipanen dan sebelum penanaman selanjutnya. Lokasinya berganti-ganti antara berbagai nagari(daerah setingkat desa atau kelurahan) di Tanah Datar.Nagari-nagari ini berada di empat kecamatan yang secara adat merupakan penyelenggara pacu jawi, yaitu sungai tarab, pariangan, lima kaum dan rambatan.
Pacu jawi telah diselenggarakan sejak berabad-abad lalu, termasuk sebelum kemerdekaan indonesia, dan berawal dari perayaan dan hiburan panen untuk warga desa.Dulunya, acara ini hanya diadakan dua kali setahun, tetapi siklus panen yang semakin pendek memungkinkan acara ini diselenggarakan dengan lebih sering lagi.Pada tahun 2013, nagari-nagari Tanah Datar bergiliran menyelenggarakannya setiap dua bulan, dan tiap giliran terdiri dari empat acara yang diselenggarakan pada hari Sabtu.
Selain meningkatkan silaturahim, pacu jawi juga mengenalkan adat dan budaya. Manfaat lain ternyata pacu jawi meningkatkan harga sapi, sehingga bisa menggerakkan perekonomian masyarakat di sekitarnya
B. Permainan Pacu Jawi.
Walaupun namanya pacu jawi ("balapan sapi" dalam bahasa indonesia), acara ini sebenarnya bukan lomba adu kecepatan sapi.Setiap peserta, yaitu sepasang sapi yang dikendalikan oleh seorang joki, masing-masing berlari secara bergiliran di sebidang sawah. Sapi yang digunakan adalah sapi jantan berumur 2 hingga 13 tahun, berlari berpasangan dengan diikat ke sebuah alat bajak dari kayu, tempat sang joki berdiri.Lintasan pacuan adalah tanah berlumpur bekas sawah yang sudah kosong setelah dipanen. Berbagai sumber (yang menyaksikan acara pacu jawi pada kesempatan berbeda) menyebut panjang lintasan yang berbeda-beda, mulai dari 60 meter,100 meter,hingga 250 meter.Lumpur di lintasan pacuan dapat mencapai kedalaman 30 cm. Sapi-sapi ini terlatih untuk mulai berlari saat diberi aba-aba yaitu saat alat bajak yang terikat sudah menyentuh tanah dan diinjak seseorang. Sang joki dapat berdiri dan mengendalikan sapi-sapi ini dengan cara memegang ekor kedua sapi, tanpa menggunakan Tali yang mengikat kedua sapi ini dibuat longgar, sehingga sapi-sapi tersebut sering berlari dengan arah atau kecepatan yang berbeda. Sang joki dituntut untuk mengendalikan sepasang sapi agar tidak berpisah dan bisa berlari lurus sampai ke finis, sambil berusaha agar ia sendiri tidak terjatuh.
Para penonton, yang sering termasuk turis mancanegara, menyaksikan acara ini dari tanah kering di pinggir sawah.Bagian dari atraksi acara ini adalah perilaku sapi-sapi yang sulit diatur, sehingga joki sering jatuh atau harus melakukan manuver untuk mempertahankan diri dan mengarahkan sapi-sapi.Kadang sang joki menggigit ekor salah satu sapinya agar berlari lebih cepat (terutama ketika sapi tersebut lebih lambat dibandingkan pasangannya).Lumpur dapat terciprat ke mana-mana, termasuk ke arah penonton Kadang, sapi malah berbelok arah dan malah berlari ke arah penonton.Tidak jarang terjadi cedera, terutama pada para joki. Tidak ada pemenang yang dinyatakan secara resmi, tetapi penonton umumnya menilai sapi-sapi ini berdasarkan kecepatan, kekuatan, dan kemampuan berlari lurus
C.Pesta
Acara pacu jawi diiringi dengan sebuah pesta desa (alek nagari) yang disebut alek pacu jawi ("pesta pacu jawi"). Pesta ini sering melibatkan sapi yang didandani suntiang(perhiasan kepala khas Minangkabau), permainan musik seperti gendang tasa dan talempong pacik, pasar dadakan,permainan tradisional,panjat pinang dan lomba layang-layang Sebelum keterlibatan pemerintah, warga setempat melakukan urunan untuk menanggung seluruh biaya acara, tetapi sekarang sebagian biaya ditanggung Dinas Pariwisata Tanah Datar.



